Deskripsi
Dalam buku Immanuel Kant berjudul Kritik der Urteilskraft (Kritik atas Daya Putusan), Hannah Arendt membaca dari perspektif yang berbeda: terkait eksistensi filsafat politik di balik pemikiran tentang keindahan. Pokok-pokok utama dalam buku itu ia baca secara politis: imajinasi, kemampuan menghakimi, amor mundi (cinta akan dunia), komunikasi, dan sensus communis (rasa kebersamaan). Dari sana, Arendt mengembangkan ide-ide yang kemudian terkenal dan penting dalam pembahasan politik: ketidakmampuan berpikir (thoughtlessness, Gedankenlosigkeit), banality of evil (banalnya kejahatan), kebenaran dan kebohongan, serta solidaritas.
Dr. Fitzerald K. Sitorus akan membawakan ceramah yang mengaitkan dua filsuf tersebut, yakni Hannah Arendt dan Immanuel Kant, dalam acara lanjutan peringatan 50 tahun wafatnya Hannah Arendt yang diadakan oleh Goethe-Institut Indonesien bekerjasama dengan STF Driyarkara. Maulida Sri Handayani, peneliti dan pengajar filsafat akan bertindak sebagai moderator pada sesi ceramah ini.
Bagi Hannah Arendt, filsafat politik bukanlah teori abstrak atau metafisika, melainkan sesuatu yang berkaitan langsung dengan manusia dan kehidupannya bersama. Ia mengingatkan kita pada bahaya totalitarianisme, kebohongan dalam politik, hakikat kekuasaan, dan pentingnya ruang publik sebagai tempat berdiskusi. Menurut Arendt, kekuasaan tidak berada di tangan penguasa, melainkan pada warga negara yang berpartisipasi bersama, berbicara tentang kepentingan umum, dan mengambil keputusan melalui dialog. Politik bukan perebutan atau pertahanan kekuasaan, tetapi sebuah tindakan kolektif di ruang publik yang dilakukan secara sadar dan terbuka.
Di tengah kondisi politik sekarang: korupsi, manipulasi kekuasaan, fake news, lemahnya lembaga demokrasi, buzzer politik, era post-truth, polarisasi masyarakat, juga ketakberpikiran, pemikiran Arendt tentang politik murni memberi alternatif. Ia menunjukkan optimisme bahwa kebaruan bisa terjadi dalam dan melalui politik.