About This Experience
Bagaimana membangun kembali ruang publik yang hidup, di mana kebebasan dan kesetaraan bukan sekadar retorika, melainkan menjadi realitas?
Karya-karya Hannah Arendt lahir dari kengerian atas totalitarianisme abad ke-20, yang kemudian menawarkan kerangka konseptual yang tajam dan mendesak untuk membaca realitas yang terjadi. Bagi Arendt, politik bukanlah sekadar arena kuasa, tapi juga bagaimana manusia hadir bersama dalam dunia: saling bicara, berdebat, dan bertindak secara bersama, memunculkan tindakan politik yang bermakna. Hal ini hanya dapat terjadi jika keberadaan ruang publik terealisasi dengan baik.
Topik di atas akan diangkat oleh Dr. Johanes Haryatmoko, SJ (Romo Moko) bersama Patricia Beata Kurnia dalam program berjudul Ruang Publik yang Hilang: Hannah Arendt dan Matinya Dialog Politik di Indonesia. Ceramah ini merupakan acara lanjutan peringatan 50 tahun wafatnya Hannah Arendt yang diadakan oleh Goethe-Institut Indonesien bekerjasama dengan Yayasan Jurnal Perempuan.
Menurut Hannah Arendt, ruang publik kian langka dalam demokrasi elektoral yang dikendalikan oleh transaksi kekuasaan, di mana suara rakyat hanya dihitung ketika dibutuhkan, dan dibungkam ketika menuntut perubahan. Legalisme otokratis secara halus namun sistematis merusak demokrasi. Alih-alih melindungi, undang-undang malah digunakan untuk membungkam: aktivis dikriminalisasi, kritik direspons dengan tuntutan hukum, dan hilangnya keadilan dalam hukum.
Bagi Romo Moko, kondisi Indonesia saat ini mencerminkan kekhawatiran Arendt bahwa ruang publik direduksi menjadi pasar politik yang transaksional dan eksklusif. Sejalan dengan pendapat Arendt, kelompok minoritas terpinggirkan; suara-suara yang tak sesuai dengan narasi dominan dibungkam. Tindakan politik menjadi skema loyalitas yang menjebak kehilangan kekuatan kreatif dan pembebasnya.
Mengambil momentum refleksi warisan pemikiran Arendt dan urgensinya dalam membaca fenomena mengerucutnya ruang politik di Indonesia, program ini juga mengajak kita untuk merevitalisasi kembali ruang publik sebagai tempat bertemunya keberanian, kebebasan, dan tanggung jawab. Pemikiran Hannah Arendt menjadi pintu masuk untuk membaca dinamika politik masa kini secara lebih mendalam.
Biografi Pembicara
Dr. Johanes Haryatmoko, SJ adalah pastor Katolik dan dosen di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, serta dosen tamu di berbagai universitas terkemuka di Indonesia. Ia aktif mengajar di bidang filsafat, etika, dan komunikasi, serta dikenal melalui karya-karyanya yang membahas isu sosial, politik, dan pemikiran kritis. Komitmennya pada keadilan sosial dan refleksi etis menjadikan Dr. Johanes Haryatmoko, SJ figur penting dalam diskursus filsafat politik di Indonesia.
More Details About This Event
What do they say
About Creator
Frequently Asked Questions
You Might Also Like
Information
Publish Event on Goers
Solution for Venue Owner
Download Brochures
Goers Experience Manager
Point of Sales
Ticket Scanner
Pricing
Experience Business
New Normal Solution
Online Event Management
Sport Venue & Event
Theme Park
Tour & Travel
Exhibition
Music & Concerts
Seminar
Kuningan, Setiabudi,
Kota Jakarta Selatan 12920






