Apakah demokrasi yang rusak masih dapat dipulihkan? Prof. F. Budi Hardiman mengangkat pertanyaan ini untuk mengupas konsep natalitas pada lanjutan program ceramah dan diskusi dalam rangka 50 tahun wafatnya Hannah Arendt yang diadakan oleh Goethe-Institut Indonesien bersama Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Dr. Ruth Indiah Rahayu akan bertindak sebagai moderator pada acara ini.
Sebagai seorang figur intelektual dengan pengalaman demokrasi yang kemudian dirusak oleh rezim totaliter Jerman, Hannah Arendt dikenal sebagai tokoh yang memberi harapan yang kuat untuk pemulihan demokrasi melalui pemikiran serta karya tulisnya. Hannah Arendt mampu mengupas pelbagai pandangan terkait manusia yang sebelumnya tidak menjadi fokus bagi pemikir-pemikir lain. Lewat pendekatan fenomenologisnya, ia memberikan pandangan baru terkait manusia: sebagai makhluk yang mampu membuat permulaan baru dengan kemampuan yang ia sebut sebagai natalitas, sebuah konsep yang ia sandingkan bersamaan dengan pandangannya terkait republikanisme.
Berbeda dari gambaran kelabu dalam "The Origins of Totalitarianism"-di mana Arendt menganalisis proses runtuhnya republik melalui penghancuran ruang publik-konsep natalitas dalam Vita Activa menjadi unsur penting untuk mengupas dinamika dalam cara pandang yang berbeda. Konsep natalitas tersebut membuka kemungkinan bagi pemulihan dan penguatan kembali republik. Dengan menelusuri relasi antara tindakan, kebebasan, dan natalitas dalam pemikiran republikanisme Hannah Arendt, sesi diskusi dan ceramah ini tidak hanya menegaskan makna natalitas politis dalam konteks demokrasi, melainkan juga memberi evaluasi dan rekomendasi dalam konteks yang lebih nyata: khazanah Realpolitik.