Tahun 2025 menandakan tahun keempat berlangsungnya Dekade Bahasa Adat Internasional yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Program ini merupakan sebuah inisiatif global untuk meningkatkan kesadaran akan pelestarian, revitalisasi, dan promosi bahasa daerah. Sebagai negara dengan tingkat keberagaman bahasa tertinggi di dunia sebanyak lebih dari 700 bahasa. Indonesia mendapatkan peranan penting dalam kancah gerakan global ini.
Meski jumlahnya berlimpah ruah, tetapi banyak bahasa daerah di Indonesia kurang terwakili dan memiliki sumber daya yang terbatas. Tingkat penciptaan pengetahuan dan juga kehadiran di dunia digital sangat terbatas. Hal ini menyebabkan komunitas bahasa tersebut terpinggirkan secara sosial dan politik.
Dalam perhelatan perdana Digital Discourses 2025 ini, kita akan menjelajahi upaya pelestarian bahasa daerah dari tiga sudut pandang: pemerintah, peneliti, serta masyarakat adat itu sendiri. Ketiga narasumber dari berbagai macam belakang ini akan membagikan wawasan dan pengetahuan yang mereka kuasai tentang topik penting ini.
Narasumber:
Afrida Erna Ngato - Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN)
Afrida Erna Ngato adalah seorang aktivis bahasa dan kebudayaan daerah dari Maluku Utara. Selain bekerja sebagai guru sekolah dasar, Ida juga terlibat dalam tim penyusun kurikum muatan lokal yang merumuskan mata pelajaran bahasa daerah di Halmahera Utara. Ida juga diangkat sebagai Kepala Suku Isam/Pagu pada tahun 2012 atas perjuangannya menyelamatkan bahasa dan budaya Isam/Pagu yang hampir punah.
Dwi Agus Erinita - Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Dwi Agus Erinita, biasa dipanggil Ita, staf di Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Saat ini bekerja di bagian Pelindungan dan Pemodernan Bahasa dan Sastra. Memiliki pengalaman sebagai pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Jepang, Thailand, Kedutaan Rusia serta pengalaman bekerja di bagian Uji Kemahiran Berbahasa (UKBI) Indonesia. Hobi jalan-jalan.
Nazarudin - Universitas Indonesia
Nazarudin adalah dosen linguistik di Program Studi Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Ia berperan aktif dalam riset tentang dokumentasi bahasa dan revitalisasi bahasa yang terancam punah di wilayah Indonesia timur, terutama rumpun Bahasa Papua dan Austronesia. Di samping itu, ia juga meneliti tipologi bahasa-bahasa di Indonesia, bidang linguistik korpus, dan penggunaan bahasa di media sosial.
Narahubung: Biyanto ([email protected])