About This Experience
Apakah berpikir? Di manakah kita ketika sedang berpikir? Dapatkah kegiatan berpikir menjadi salah satu syarat yang membuat manusia menahan diri dari perbuatan jahat atau bahkan mengkondisikan diri untuk melawan kejahatan?
Berangkat dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Hannah Arendt dalam The Life of Mind, Dr. Karlina Supelli akan membawakan program ceramah dengan fokus tersebut sebagai lanjutan seri diskusi dalam rangka 50 tahun wafatnya Hannah Arendt yang diinisiasi bersama STF Driyarkara. Joan Rumengan akan bertindak sebagai moderator pada program ini.
Hannah Arendt melahirkan buku The Life of the Mind karena rasa terkejut oleh manifestasi kedangkalan seorang pelaku kejahatan yang melulu ketiadaan berpikir: tak memiliki motif jahat, tanpa kebencian, serta tanpa keyakinan ideologis.
Dari observasinya, Arendt menelaah tiga kemampuan batin manusia: berpikir, berkehendak, dan menilai. Dunia ia bayangkan layaknya panggung, ada pelaku dan pengamat. Oleh dorongan kehendak dan melalui tindakannya, pelaku menciptakan hal-hal yang tak terduga di dunia. Namun, kehendak dapat menjadi akar bagi tirani. Hanya pengamat yang dapat memahami maknanya melalui kegiatan berpikir dengan menerapkan beragam sudut pandang.
Pelaku dan pengamat terjembatani dalam diri sang hakim manusia yang mampu menjadi pengamat, sekaligus menilai dengan tanggung jawab sebagai pelaku. Sayangnya, Arendt meninggal sebelum bagian ini ia tuliskan. Namun, dari banyak bahan kuliah dan tulisan lainnya, tampak bahwa sang hakim inilah yang menjaga agar kebebasan kehendak tidak menjadi kesewenang-wenangan dan makna dalam pikiran tidak tercerabut dari kenyataan.
Di tengah zaman yang bergegas mengejar luaran konkret, karya terakhir Arendt ini justru mengajak kita untuk berhenti sejenak dan berpikir. Berpikir mencari makna, dengan suara hati sebagai buah sampingannya, bukan untuk memperoleh hasil atau pembukitan apa pun. Di kala keruntuhan moral merebak, berpikir menyiagakan seseorang untuk membuat penilaian dengan mendengarkan suara hatinya, alih-alih terseret pendapat kebanyakan.
Sebab itu, berpikir sebuah kegiatan yang amat tersembunyi, menjadi sangat politis ketika menjelma dalam tindakan orang-orang yang menolak berkompromi dengan rezim yang korup, yang menyembunyikan kebenaran, dan melindungi kekejaman. Sebaliknya, ketiadaan berpikir dapat menghasilkan kejahatan tak terkira, tanpa pelaku merasa bersalah. Ia menjalankan perintah secara buta alias tanpa berpikir.
More Details About This Event
What do they say
About Creator
Frequently Asked Questions
You Might Also Like
Information
Publish Event on Goers
Solution for Venue Owner
Download Brochures
Goers Experience Manager
Point of Sales
Ticket Scanner
Pricing
Experience Business
New Normal Solution
Online Event Management
Sport Venue & Event
Theme Park
Tour & Travel
Exhibition
Music & Concerts
Seminar
Kuningan, Setiabudi,
Kota Jakarta Selatan 12920






